6 Ciri Sikap Overachiever yang Selalu Kurang Puas dengan Pencapaian, Hingga Malah Merugikan Diri Sendiri
Ilustrasi perempuan merenung (MART Production/Pexels)

Bagikan:

PALEMBANG - Setiap orang pastinya mempunyai impian ingin menjadi sukses. Untuk dapat mewujudkan impian itu, banyak orang kemudian bekerja keras hingga mati-matian dan hanya berhenti ketika mimpi sudah terwujud. Namun, apa jadinya jika Anda tak memiliki rasa puas meski kesuksesan telah diraih? Jika ini yang dirasakan, maka tak menutup kemungkinan Anda adalah seorang yang berprestasi.

Overachiever melansir  Alodokter , Rabu, 20 Juli, merupakan istilah psikologi julukan bagi seseorang yang tidak pernah puas dengan pujian, tidak menyukai kritik, tidak suka kegagalan, dan menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan. Seorang overachiever selalu berorientasi pada hasil akhir daripada proses.

Seorang overachiever sering terlihat sebagai workaholic yang abai dengan diri dan kondisi sekitarnya. Terkadang, sikap ini bisa terlihat positif. Sayangnya, jika terus-menerus dilakukan, overachiever bakal rentan mengalami gangguan kesehatan fisik maupun kesehatan mental.

Seseorang dengan sikap ini tidak sekadar ambisius, tapi juga ingin selalu bekerja, selalu dibayangi ketakutan jika gagal, dan abai dengan diri dan lingkungannya. Selain itu, seorang overachiever juga akan memiliki ciri-ciri seperti berikut ini, disadur dari Very Well Family.

Perfeksionis

Seorang overachiever kadang sangat peduli dengan kesempurnaan. Baginya ketidaksempurnaan adalah tanda kegagalan. Jadi ia akan berusaha keras untuk mempertahankan image perfeksionis yang ada dalam diri.

Sebenarnya, menjadi perfeksionis tak terlalu buruk. Anda bisa punya komitmen untuk melakukan segala hal dengan baik. Hanya saja dianggap negatif jika perilaku perfeksionis malah jadi sumber stres dan kecemasan hingga berdampak pada kesejahteraan fisik dan mental.

Sering mengkritik diri sendiri

Kritis pada diri merupakan hal wajar yang dilakukan tiap orang. Namun, overachiever memiliki kecenderungan mencaci-maki diri sendiri saat gagal memenuhi harapan yang terlalu tinggi. Tak heran jika overachiever rentan mengalami kecemasan dan stres. Karena terus-menerus berjuang untuk mencapai tujuan yang hampir mustahil. Ditambah dengan ketakutan akan kegagalan yang selalu ada.

Hanya fokus pada masa depan

Karena tak ingin gagal, overachiever akan mempersiapkan masa depan dengan baik. Akibatnya, ia tak dapat menikmati hal-hal yang terjadi saat ini karena terlalu sibuk mengkhawatirkan apa yang akan datang.

Sulit kontrol emosi

Tuntutan untuk mencapai impian di luar batas harapan dapat menciptakan stres berat. Sehingga ledakan emosi bisa terjadi ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Normal saat Anda sesekali kehilangan kesabaran. Tapi, jika sedikit sentilan mampu membuat amarah Anda memuncak, itu tandanya Anda terlalu keras pada diri sendiri.

Sulit menerima kritik orang lain

Seorang overachiever akan sulit menerima kritikan. Kritik menyiratkan kegagalan dan kegagalan adalah ketakutan terbesar overachiever. Jika Anda stres saat mendapat kritikan, bahkan kritikan sekecil apapun, mungkin pertanda bahwa Anda seorang achiever.

Termotivasi dari rasa takut

Ada banyak sumber motivasi yang dapat memaksa orang untuk bekerja mencapai tujuan. Namun, overachiever sering kali termotivasi karena rasa takut. Takut gagal, takut mengecewakan orang lain, atau takut terlihat lemah atau tidak kompeten.

Jenis motivasi ini berfungsi sebagai sumber kecemasan. Overachiever memilih bekerja keras untuk menghindari hasil negatif (kegagalan) daripada mencapai hasil positif (mencapai tujuan yang diinginkan).

Perilaku berbasis penghindaran semacam ini sering menyebabkan kesusahan, kekhawatiran, dan perasaan negatif. Semuanya dapat berdampak buruk pada harga diri dan kepercayaan diri Anda.