Tips Memberikan Edukasi pada Anak untuk Menghindari Pelecehan Seksual, Lakukan Sedini Mungkin dengan Metode Tepat
Ilustrasi anak sekolah (Taylor Wilcox/Unsplash)

Bagikan:

PALEMBANG- Anna Surti Ariani, Psikolog keluarga dan anak dari Lembaga Psikolog Terapan UI (LPTUI), menyampaikan tips memberi edukasi sedini mungkin kepada anak untuk menghindari kekerasan atau pelecehan seksual.

"Pendidikan seksualitas pada anak memang harus dimulai dari usia dini. Dimulai dari usia 0-2 tahun. Kita sebagai orang tua harus menambahkan dengan benar anggota- anggota tubuh anak sesuai dengan nama kiasan dan tidak memakai nama kiasan," kata Anna dalam acara berani, dirangkum dari  ANTARA , Senin, 4 Juli.

Dengan memberitahukan nama asli dari anggota tubuh, anak nantinya dapat dengan mudah memberikan laporan kepada orang tua jika hal-hal yang terjadi tidak diinginkan. Setelah memasuki usia di atas dua tahun, anak untuk menghargai dirinya sendiri dimulai dari hal-hal yang mudah untuk mengganti baju di tempat-tempat yang tertutup.

"Ini sering terjadi di tempat liburan, misalnya lagi di pantai terus mau mandi. Anaknya buka baju di tempat umum, terus akhirnya dilihat semua orang saat mandi. Ini bisa membuat anak tidak biasa menghargai tubuhnya. Jadi anak anak untuk menghargai dan menghargainya. salah satu caranya bersiaplah untuk mengganti baju di tempat tertutup," ujar wanita yang juga Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia wilayah Jakarta itu.

Mengenalkan Privasi Tubuh kepada Anak untuk Menghindari Pelecehan Seksual 

Selain itu, anak juga wajib diajarkan mengenai pemahaman yang baik dan buruk. Berikan pemahaman kepada anak bahwa orang tua atau pengasuh yang boleh memegang hanya atau menyentuhnya itu pun dalam kondisi pengasuh sedang meladeni anak.

"Ajarkan anak juga untuk berani berani memastikan hal-hal yang tidak nyaman dengan orang tuanya. Orang tua pun harus diri menerima laporan anaknya dan harus bisa menyamankan bagi anaknya," katanya.

Metode Role Play untuk Edukasi Anak Pencegahan Pelecehan Seksual

Untuk membiasakan edukasi dan komunikasi terkait seksualitas, orang tua bisa menggunakan metode "Role Play" atau bermain peran sehingga anak mengerti dengan lebih mudah mengambil keputusan jika ada kondisi- kondisi yang tidak menguntungkan.

Misalnya orang tua bisa mengajak anak berperan jika tiba- tiba ada orang asing di tempat umum yang memegang badan anak maka anak harus melaporkan ke orang tua atau segera mencari pertolongan ke orang lain. Dengan demikian, anak bisa lebih memiliki proteksi diri dan mempunyai bekal untuk terhindar dari pelecehan seksual.