Petani di OKU Sulit Akses Internet, Program Kartu Tani Terkendala dan Belum Berjalan Optimal
Program kartu tani (Foto dari Antara)

Bagikan:

PALEMBANG - Agus Paharyono, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Komering Ulu, mengungkapkan hingga saat ini program Kartu Tani berjalan dengan baik. Permasalahan adalah adanya kendala jaringan yang tidak memadai.

"Akibat terkendala jaringan program Kartu Tani hingga saat ini tidak berjalan sesuai peruntukannya," kata Agus Paharyono di Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Kamis.

Berdasarkan data, sejak program itu diluncurkan pemerintah pusat tercatat sebanyak 16.837 petani di wilayahnya sudah memiliki Kartu Tani yang telah didistribusikan pada tahun 2020 lalu.

Hanya saja, kata dia, sejak didistribusikan para petani yang terdaftar di RDKK masih membeli pupuk bersubsidi di kios pengecer menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik.

Alat Mesin EDC Sulit Diakses Petani

Belum dapat difungsikannya Kartu Tani disebabkan karena beberapa kendala, salah satunya jaringan internet pada alat mesin EDC yang sulit diakses oleh petani khususnya di pelosok desa.

"Mesin EDC yang ada di kios pengecer pupuk harus menggunakan frekuensi jaringan, sedangkan wilayah pelosok desa termasuk juga di kota sulit mendapat sinyal untuk mengakses alat ini," ujarnya.

Kartu Tani untuk Membantu Kebutuhan Petani

Selain jaringan, lanjut dia, kendala lainnya terdapat pada pembagian kuota pupuk melalui Kartu Tani tidak mencukupi kebutuhan petani yang Terdaftar di Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) di wilayah itu.

"Sejauh ini kuota kabupaten/kota paling tinggi 70 persen untuk pupuk jenis Urea, SP36 kisaran 40 persen, Ponska 50-60 persen dan terendah pupuk ZA yaitu hanya 30 persen dari yang diusulkan," ujarnya.

"Terkait hal itu pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak karena secara teknis Kartu Tani merupakan kebijakan pemerintah pusat," ujar Agus.

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri lainnya di VOI Sumsel.