8 Wisata Sejarah Palembang, Dari Zaman Sriwijaya sampai Sultan Darussalam
Rumah Bari atau rumah lama masyarakat Palembang (Twitter/@pesonasriwijaya)

Bagikan:

SUMATERA SELATAN - Kota Palembang menyimpan wisata sejarah yang menarik dan beragam. Peninggalan-peninggalan sejarah yang ada membuktikan bahwa di Bumi Sriwijaya pernah singgah banyak budaya dan etnis. Tentu saja hal itu menjadi kekayaan budaya yang menarik.

Nuansa multikultural akan terasa saat Anda melangkahkan kaki di sudut-sudut Kota Palembang.  Anda akan melihat bagaimana budaya Melayu berpadu harmonis dengan budaya Tionghoa , serta budaya Arab.

Lokasi Kota Palembang sangat strategis sebagai jalur dagang pada zaman dahulu. Kota yang dijuluki sebagai 'kota pempek' ini berada tidak jauh dari pantai dan dilalui oleh sungai besar, yaitu Sungai Musi. Hal itu lah yang menyebabkan banyak pedagang dari Cina dan Arab yang mampir.

Jadi, selain terkenal dengan kelezatan kulinernya , kota ini juga memiliki wisata sejarah yang kaya.  Anda akan belajar bagaimana sejarah nusantara berkembang di sini. Tak ketinggalan, tempat-tempat wisata tersebut juga menawarkan spot foto yang menarik dan kuliner khas Palembang.

Pulau Kemarau

Pulau Kemaro (Instagram / @ rahmawati_suri)

Setiap daerah pasti memiliki mitos uniknya masing-masing.   Di Kota Palembang terdapat mitos kisah cinta memilukan antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Hubungan cinta beda etnis tersebut harus berakhir tragis ditelan arus Sungai Musi.

Mitos tersebut tidak dipercaya menjadi asal mula kesalahan Pulau Kemarau. Namun secara ilmu sains, pulau tersebut terbentuk karena proses alam. Tanah dan lumpur yang terkumpul di muara sungai menyebabkan terbentuknya pulau ini.

Pulau kemarau terletak di tengah Sungai Musi. Tempat ini menjadi salah   satu wisata Palembang yang paling ramai dikunjungi. Di pulai ini terdapat situs bersejarah bagi umat Budha, mulai dari Pagoda berlantai 9, Klenteng Hok Tjing Rio, Pohon Cinta, hingga makam penunggu pulau.

Para wisatawan biasanya datang ke sini untuk berdoa atau berziarah. Pulau yang dihuni ratusan orang yang paling ramai dikunjungi pada saat Anugerah Cap go meh . Anda bisa melihat berbagai kegiatan, seperti pertunjukan barongsai, wayang potehi, drama, hingga penampilan musik.

Pulau ini terapung tak jauh dari Jembatan Ampera. Untuk sampai ke sini anda bisa menyewa kapal. Biaya sewa kapal mulai dari 200 ribu hingga 2 juta, tergantung jenis kapal dan kapasitas penumpangnya. Anda akan berlayar di sungai musi sekitar 15 menit untuk sampai di pulau.

Kampung Kapitan

Kampung Kapitan (Instagram/@palembang.sumsel.ssci)

Jejak Tiongkok terasa begitu kental di Kota Palembang. Selain tempat-tempat sembahyang, di Palembang juga terdapat kampung pecinan yang bernama Kampung Kapitan. Kampung tersebut berada di kawasan kelurahan 7 Ulu, kecamatan Ulu 1 Palembang.

Kampung Kapitan adalah sebuah tempat tinggal orang-orang cina sejak dahulu. Berada di kampung ini Anda bisa menikmati suasana seperti di Cina, mulai dari ornamen-ornamennya, orang-orangnya, hingga aktivitas mereka.

Bukit Siguntang

Bukit Siguntang (Instagram / @ indonesiahiddenheritage)

Jika anda ingin melakukan wisata sejarah sambil menikmati suasana alam, maka Bukit Siguntang adalah jawabannya. Bukit Siguntang dipercaya sebagai kompleks pemakaman raja-raja Melayu. Bukit kecil mempunyai luas 29 - 30 meter, dengan luas sekitar 6 hektar.

Bukit yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat berada di Kelurahan Bukit Lama, Ilir Barat I. Di sini tersimpan banyak peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya, Perwakilan Majapahit, dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Di tempat ini dan bisa melihat kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di kaki bukit, arca Budha Amarawati, dan prasasti kedukan. Prasasti tersebut menjad benda yang sangat penting karena menjadi bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya di Palembang. Palembang ditetapkan sebagai kota tertua di Indonesia berkat prasasti tersebut, tertanggal 16 Juni 628 Masehi.

Banyak pengunjung yang datang ke sini untuk tujuan ziarah maupun menikmati keindahan alamnya. Di tempat ini Anda bisa menikmati kesejukan pepohonan yang rindang. Ada pohon asoka, cempedak, pinus, kayuagung, jaraj, kenanga, kayumanis, dan rukam. Dari atas bukit, anda juga dapat menyaksikan pemandangan keelokan Kota Palembang.

Bukit Siguntang bisa dikunjungi dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Tiket masuk ke tempat ini cukup murah. Anda hanya perlu merogoh kocek Rp3.000 untuk orang dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak.

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera (Instagram / @ baturajatrending)

Jembatan ampera membentang kokoh dan indah di atas Sungai Musi. Jembatan yang berwarna merah sudah cukup dikenal sebagai   ikon Kota Palembang. Jalan yang menjadi penyeberangan dari wilayah Seberang Ulu ke Seberang Ilir tersebut dibangun pada tahun 1962.

Sambil melintas di atas jempatan ampera, anda bisa memandangi keindahan kota Palembang. Anda juga akan dibuat terpesona dengan pemandangan aktivas para nelayan di sungai musi. Sungai sepanjang 750 Km banyak nelayan hilir-mudik mengangkut ikan. Perahu yang terapung dan melaju akan menghiasi perairan sungai musi.

Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak (Instagram / @ indonesiabeutifull)

Penjajahan tak hanya menyisakan banyak luka, namun juga bangunan. Salah satu bangunan peninggalan zaman belanda yang ada di Kota Palembang adalah Benteng Kuto Besak (BKB). Bangunan ini bisa membuat kita jadikan monumen atau petilasan bagaimana kakek-nenek kita berjuang dengan gagah berani mengalahkan Belanda.

BKB berdiri tidak jauh dari Sungai Musi. Dari benteng tersebut anda bisa melihat pemandangan kapal-kapal yang berlayar di Sungai Musi. Benteng yang didirikan pada tahun 1780 ini kini telah dikembangkan oleh pemerintah Palembang. 

Area sekitar benteng ini telah disulap oleh Pemkot menjadi tempat yang asyik untuk bersantai. Bangku-bangku taman berbaris rapi di alun-alun, yang terletak di depan benteng. Fasilitas di sini juga sangat lengkap. Untuk biaya masuknya, pengunjung hanya perlu membayar Rp5.000.

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang (Instagram/@scci.indonesia)

Budaya Arab atau budaya Islam juga cukup berkembang pesat di Palembang. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi buktinya. Sultan Mahmud Badaruddin II  merupakan tokoh yang cukup berjasa bagi kota ini. Bangunan yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung ini merupakan masjid terbesar di Palembang, bahkan Sumatera Selatan.

Masjid yang dibangun pada tahun 1748 ini memiliki keunikan individual. Jika anda amati, bangunan masjid merupakan perpaduan arsitektur Arab, Tiongkok, dan Eropa. Jika anda ingin melihat keramaian masjid ini, datanglah saat Ramadhan. Di saat tersebut banyak kegiatan dan banyak orang berkumpul di masjid ini.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (Instagram/@pariwisata.palembang)

Tak hanya masjid, Nama Sultan Mahmud Badarudin pun diabadikan menjadi nama sebuah museum. Museum SMB terletak bersebelahan dengan BKB. Karena kedekatan, Anda bisa menjadikan dua destinasi sejarah tersebut dalam satu perjalanan perjalanan.

Museum SMB menyimpan benda-benda peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam. Anda bisa menyaksikan benda-benda bersejarah yang mencapai ratusan.

Museum ini tentu saja menjadi destinasi yang tepat untuk belajar sejarah. Anda bisa menyimpan koleksi etnografi, arkeologi, seni rupa, keramik, biologi, hingga numismatik.

Masjid Cheng Hoo

Masjid Cheng Hoo (Instagram / @ masjidchenghoo_palembang)

Nama Laksamana Cheng Hoo cukup terkenal di beberapa kota di Indonesia. Cheng Hoo merupakan seorang Muslim Tionghoa yang melakukan pelayaran dan menyinggahi beberapa kota di Indonesia, salah satunya Palembang.

Majid Cheng Hoo terletak di Kompels Perumahan TOP Atlit, Keluaran 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Pembangunan masjid ini diinisiasi oleh lembaga Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Palembang.

Masjid yang mempunyai warna khas hijau - merah tersebut menjadi simbol pluralisme dalam masyarakat Palembang. Masjid Bernama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Ceng Hoo tersebut dibuat dengan arsitektur yang unik, perpaduan Arab, Melayu, dan Cina.

Itu tadi beberapa wisata sejarah di Kota Palembang yang bisa anda kunjungi. Berkunjung ke tempat-tempat tadi ibarat melakukan perjalanan dari nusantara ke Cina, lalu ke Arab. Anda bisa merasaka penjelajah waktu tiga masadari Zaman Sriwijaya, Kesultanan Darussalam, dan Penjajahan Belanda.

Terkait