Fenomena Gerhana Matahari Menurut Islam dan Cara Menyikapi
Ilustrasi gerhana bulan (Unsplash)

Bagikan:

PALEMBANG - Rabu, 26 Mei 2021, terjadi fenomena blood moon, yakni gerhana bulan total atau Khusuful Qamar. Kenampakan alam langka berlangsung sejak pukul 18.09-20.51 WIB di Indonesia.

Dilansir dari situs  Kemenag, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kitaunan syariat yang mulia ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan.

Menyikapi Gerhana Matahari Menurut Islam

1. Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat kejadian matahari dan bulan, karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah akibat dosa-dosa yang dilakukan.

2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi Muhammad SAW dalam Salat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam salat kusuf, Rasulullah SAW diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka, bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai salat gerhana, beliau bersabda, "Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (H.R. Muttafaq alaih).

3. Menyeru dengan panggilan "Asshalaatu Jaami'ah". Maksudnya adalah panggilan untuk melakukan salat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyerukan "Ashshalaatu Jaami'ah" (HR Abu 

Daud dan al-Nasa'i). Tidak ada azan dan iqamah dalam pelaksanaan salat gerhana. Karena azan dan iqamah hanya berlaku pada salat fardhu yang lima.

4. Disunnahkan mengeraskan bacaan surat, baik salatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal ini dilakukan Rasulullah SAW dalam salat gerhana (HR Muttafaq alaih).

Tata Cara Salat Gerhana

1. Berniat di dalam hati;

2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir melintasi biasa;

3. Membaca do'a iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah membaca surat yang lain sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih);

4. Kemudian ruku ';

5. Kemudian bangkit dari ruku '(i'tidal);

6. Setelah i'tidal ini tidak langsung sujud, namun dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat lain. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;

7. Kemudian ruku 'kembali (ruku' kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku 'sebelumnya;

8. Kemudian bangkit dari ruku '(i'tidal);

9. Kemudian sujud yang panjangnya ruku ', lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali;

10. Kemudian bangkit dari sujud lalu yang melakukan raka'at kedua rakaat pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;

11. Salam.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jemaah yang berisi anjuran untuk berzikir, berdoa (khususnya agar wabah COVID-19 berakhir), beristighfar, dan bersedekah.

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri di VOI .