10 Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional Supaya Nggak 'Dikit-dikit' Baper
Ilustrasi cara meningkatkan kecerdasan emosional (Unsplash/Toa Heftiba)

Bagikan:

PALEMBANG - Kondisi ketika seseorang mengalami sifat mudah terbawa  atau terpengaruh perasaan disebut dengan baper. Dalam hal ini bukan cuma perasaan terkait cinta, namun perasaan dalam lingkup menyeluruh. Misalnya ketika seseorang memiliki sensitivitas tinggi, ia akan mudah terbawa atau dikendalikan oleh perasaan.

Kecerdasan emosional, dilansir Inc., Jumat, 21 Januari, adalah kecerdasan membuat emosi bekerja untuk Anda, bukan menyetir perilaku dan respons Anda terhadap satu peristiwa maupun objek. Contohnya, ketika Anda merasa sangat bahagia, Anda menyetujui banyak hal. Dengan memiliki kecerdasan emosional, seseorang jadi enggak mudah baper dan dikontrol oleh perasaan.

Bukan berarti orang dengan kecerdasan emosional mengesampingkan perasaan. Tetapi menyeimbangkannya sehingga memiliki kontrol lebih baik dari diri sendiri dan memengaruhi hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Sebegitu pentingnya mencerdaskan emosi, maka berikut ini tips yang bisa dilakukan jika lebih berat perasaan dibandingkan respons yang sehat.

1. Memikirkan penanganan terhadap situasi

Pernahkah melakukan suatu kesalahan tetapi tidak memikirkan risikonya? Alih-alih membiarkan diri tenggelam dalam penyesalan dan mengasihani diri sendiri atau bahkan mencari pembenaran, lebih baik luangkan waktu untuk memikirkan bagaimana Anda menangani situasi tersebut.

Artinya, perlu mengakui kesalahan terlebih dahulu. Lalu memikirkan penanganan terhadap situasi yang kacau, misalnya, kemudian menyelesaikannya sebagai pertanggungjawaban.

2. Tetapkan batas-batas

Langkah pertama dalam membangun kecerdasan emosional adalah menumbuhkan kesadaran diri. Maka ketahui tentang perilaku emosional Anda sendiri dulu. Ini penting, sebab pilihan yang menghancurkan akan lebih mudah didapat tanpa kesadaran.

Batas-batas yang dibuat berlandaskan kesadaran bisa dilakukan. Karena setiap orang memiliki susunan emosi yang berbeda pun kebutuhan yang berbeda pula, maka belajar mengidentifikasi ‘milik’ Anda merupakan langkah pertama melindungi kesehatan mental dan fisik Anda sendiri.

3. Memberikan perhatian penuh

Gawai dan laptop kerap mendistraksi percakapan. Bahkan pertimbangan kerap luput karena tidak memperhatikan dengan serius. Artinya, berikan perhatian penuh akan memberikan pengaruh positif pada kecerdasan emosional Anda.

4. Jaga ketahanan

Ketahanan identik dengan ketangguhan dalam menghadapi peristiwa menantang berulang kali. Untuk menghadapi tekanan dengan lebih efektif dan menjaga kesehatan mental, seseorang perlu belajar bagaimana merespons kegagalan.

Ketika mengalami kegagalan, cobalah mengambil waktu istirahat sejenak, akui perasaan yang dirasakan, fokus pada apa yang bisa dikendalikan, dan tetaplah tangguh untuk bangkit kembali.

5. Seimbangkan kekuatan dan kelemahan

Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan, jika tak ditimbang secara imbang, kekuatan bisa bermetamorfosa menjadi kelemahan. Misalnya, Anda adalah orang yang sangat produktif, ini adalah kekuatan. Tetapi jika tak seimbang, maka bisa jadi kelemahan karena menjauhkan diri dari kehidupan sosial.

6. Memberi dan mendapatkan pengakuan

Ketika melakukan sesuatu dengan benar, umumnya akan mendapatkan pengakuan. Dengan mendapatkan pengakuan, akan mendorong seseorang untuk melanjutkan perilaku positif, membangun kepercayaan dan keamanan psikologis, dan memudahkan orang tersebut menerima kritik yang membangun.

7. Membiasakan perilaku baik

Baik bisa jadi ukuran yang relatif, tetapi baik secara umum berkaitan dengan kebiasaan atau cara yang membuat hidup lebih baik. Kebiasaan, dibangun secara bertahap. Maka untuk berperilaku baik juga perlu dibiasakan secara bertahap. Semakin banyak Anda melihatnya, maka semakin Anda terbawa menjadi lebih baik.

8. Keberhasilan tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa

Pekerjaan yang hebat atau keberhasilan tidak bisa dilakukan dengan tergesa. Cobalah untuk membuat jadwal dan disiplin dengan jadwal tersebut. Misalnya dengan mulai lebih awal sehingga Anda bisa terus membangun, meningkatkan, dan menyesuaikan.

9. Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi

Dalam hal sulit, seseorang butuh segera memberi keputusan secara cepat. Namun, keputusan jangka panjang bisa jadi tidak tepat jika didasarkan pada emosi sementara. Keputusan besar, jangan diambil saat malam hari, setelah hari yang buruk, ketika lelah atau lapar, tepat setelah liburan, dan sebelum mempertimbangkan secara matang.

10. Berpikiran terbuka

Kadang, orang perlu memakai kacamata baru untuk melihat lebih jelas. Ini juga sama halnya untuk membangun kecerdasan emosional, pikiran dan emosi kerap mengaburkan visi dan penilaian. Jadi, cobalah untuk berpikiran terbuka atau mengubah perspektif Anda supaya bisa melihat masalah secara lebih jelas.

Ikuti terus berita terkini dalam negeri dan luar negeri di VOI Sumsel.